medcom.id, Jakarta: Dalam rangka meningkatkan kualitas perfilman Indonesia, tujuh produser perusahaan film mendeklarasikan pembentukan Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI).
Mereka adalah Chand Parwez Servia (Starvision), Ody Mulya Hidayat (Maxima Pictures), Erick Tohir (Mahaka Pictures), HB Naveen (Falcon Pictures), Gope Samtani (Rapi Films), Raam Soraya (Soraya Intercine Film), dan Putut Widjanarko (Mizan Pictures).
APFI diharapkan menjadi wadah yang tepat guna meningkatkan kualitas dan kreativitas insan perfilman Indonesia.
“Kita sudah merencanakan pembentukan APFI sejak perfilman kita terjadi kemerosotan. Nah, kalau tidak segera berkumpul, apa jadinya? Akhirnya, kita deklarasikan. Tapi tidak ada motif apa-apa. Kita ingin bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan, bahu membahu agar film Indonesia dicintai di dalam negeri dan masuk pasar global,” papar Chand Parwez, salah satu penggagas APFI yang juga pemilik PT Kharisma Starvision Plus, saat ditemui di Senayan, Jakarta, Senin (12/10/2015).
Ditegaskan Chand, APFI bukan tandingan PPFI (Persatuan Produser Film Indonesia). Baginya, sah-sah saja jika beberapa kepala tidak memiliki kesamaan visi dan misi dalam memperjuangkan perfilman Indonesia.
Kelahiran APFI turut didukung Ketua Komisi IX DPR-RI periode 2014-2019 Dede Yusuf. Dalam struktur APFI, Dede didapuk sebagai anggota kehormatan.
“Saya sangat mencintai perfilman Indonesia. Saya akan produksi (film) lagi. Saya lagi mencari-cari naskah cerita. Nantinya saya lebih di belakang layar. Supaya sah menjadi anggota APFI, supaya bisa kumpul sama teman-teman,” papar Dede.
Dede menanggapi positif pembentukan APFI. Terlebih APFI memiliki misi untuk membawa film Indonesia lebih aktif dalam mengikuti festival film luar negeri.
“Badan sertifikasi kita belum ada untuk film, makanya perlu kita bentuk karena berkaitan dengan honor. Oleh sebab itu, menjalin kerja sama dengan pihak luar akan bisa membantu menutup kekurangan dari film nasional saat ini,” tutur Dede.
Pembina APFI, Eric Thohir, menyampaikan bahwa APFI harus dijalani atas niat yang baik.
“Dengan adanya asosiasi yang baru ini, jangan sampai kita bekerja tidak happy dengan yang lain. Kita sebagai asosiasi era sekarang harus menciptakan masyarakat yang memiliki tanggung jawab sosial tinggi pada perfilman Indonesia,” kata Eric.
Eric berharap APFI bisa menjadi wadah bagi para sineas muda untuk mendapatkan edukasi guna meningkatkan kualitas perfilman Indonesia. Sebab, APFI memiliki rencana kerja berupa penyelenggaraan seminar berskala internasional, menciptakan peluang co-production dengan pihak luar, workshop untuk meningkatkan skill pekerja film, riset untuk mengenal penonton film Indonesia, dan keterbukaan keuangan dan laporan APFI yang diaudit oleh lembaga independen.
