Jakarta, 2 Februari 2026
Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI) menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panitia Kerja Kreativitas dan Distribusi Film Nasional (Panja KDFN) Komisi VII DPR RI bersama Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia serta para pemangku kepentingan industri perfilman nasional. APFI diwakili oleh Angga Dwimas Sasongko, Tesadesrada Ryza, dan Dewinta Hutagol, yang hadir untuk menyampaikan perspektif perusahaan film Indonesia terkait pembiayaan, distribusi, risiko produksi, dan keberlanjutan usaha industri film nasional.
Rapat yang berlangsung terbuka ini membahas tantangan struktural dan hambatan utama dalam ekosistem film nasional, khususnya pada aspek pembiayaan, distribusi, promosi, perlindungan kekayaan intelektual (IP), serta keberlanjutan industri film Indonesia.
Rapat ini juga dihadiri oleh perwakilan asosiasi dan institusi perfilman lainnya, antara lain BPI (Badan Perfilman Indonesia) yang diwakili oleh Judith J. Dipodiputro; APROFI (Asosiasi Produser Film Indonesia) oleh Linda Gozali; AVISI (Asosiasi Video Streaming Indonesia) oleh Hermawan Sutanto, Budi Setiawan, dan Darmawan Zaini; GPBSI (Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia) oleh Suprayitno; PFN (Produksi Film Negara – BUMN Perfilman) oleh Riefian Fajarsyah dan Ihsan; KAFEIN (Asosiasi Pengkaji Film Indonesia) oleh Dyna Herlina; serta Cinepoint yang diwakili oleh Sigit Prabowo dan Vincent.
Peran dan Posisi APFI
Sebagai asosiasi yang mewakili perusahaan film di Indonesia, APFI memandang bahwa film tidak hanya berfungsi sebagai produk hiburan, tetapi juga sebagai aset budaya, instrumen diplomasi budaya, dan penggerak ekonomi kreatif nasional. Oleh karena itu, penguatan ekosistem film nasional membutuhkan kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah, industri, dan asosiasi.
Komitmen ke Depan
APFI menyambut baik dukungan Panja KDFN Komisi VII DPR RI dalam memperkuat ekosistem perfilman nasional dan berkomitmen untuk:
- Terus berperan aktif dalam dialog kebijakan,
- Mendorong tata kelola industri yang sehat dan berkelanjutan,
- Serta memperjuangkan iklim usaha yang adil dan inklusif bagi seluruh perusahaan film di Indonesia.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat memperkuat fondasi industri film nasional agar mampu tumbuh secara berkelanjutan, berdaya saing, dan relevan di tengah dinamika ekonomi global.
